Selasa, 31 Mei 2011

PUPUS



Perasaan senang sedang dirasakan oleh siswa baru di SMP N Bumi Pertiwi. Semua siswa yang masuk di SMP itu adalah anak-anak terpilih yang mempunyai tingkat kecerdasan lebih. Suasana di hari itu sedang ramai-ramai nya karena sedang diadakan MOS. Celvi adalah salah satu anak 7b yang sedang duduk-duduk dikantin bersama ketiga temanya yaitu Asa, Melia, dan Izza. Sejak pertama bertemu, mereka berempat sudah akrab dan saling mengenal satu sama lain. Celvi sudah punya pacar, namanya Zigal. Dan yang lain belum punya. Oleh karena itu, sampai sekarang mereka selalu bersama. Dan kebetulan sekali mereka berempat masuk dalam satu kelas yang sama. Celvi dan Asa anaknya cuek, tidak seperti Melia yang cerewet dan frontal. Sedangkan Izza yang centil, setiap ada cowok cakep pasti dia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan perhatian cowok.
Saat mereka sedang asik-asik nya ngobrol sambil minum es, tiba-tiba datang anak yang belum dikenal. Anak itu duduk di sebelah Melia. Tetapi beda meja.
“ Ce, lo tau ngga anak yang duduk disebelah gue ..??!” kata melia sambil memasang muka sinis ke anak yang duduk di sebelahnya. Melia, Asa, dan Izza memang sudah terbiasa memanggil Celvi dengan sebutan “ Ce “. Mungkin karena lebih simple.
“ gue ngga tau, Tanya sendiri noh ama anak nya..” jawab Celvi cuek.
“ gue tau tuh anak, itu kan anak kelas 7d ??!” sambung Izza sok tau. Padahal bukan anak 7d melainkan anak kelas 7g.
“ aah, sotoy banget sih lo ..” kata Asa.

Sita, Mawar, dan Santi adalah anak yang sedang dibicarakan oleh mereka. Sita ternyata tau kalau dia dan teman-temanya sedang menjadi bahan omongan.
“ San, lo tau nggak kalau kita lagi di omongin sama mereka ??!” Tanya Sita sambil melirik ke arah Celvi dan teman-teman.
“ biarin aja deh.. mungkin mereka nge fans sama kita ??! hahahah” celetus Santi. Mawar yang sedang membaca novel pun sama sekali tidak menghiraukan apa kata Sita dan Santi.

Beberapa menit kemudian bel tanda masuk pun berbunyi. Dan semua anak siswa baru berkumpul dalam satu ruangan, tetapi mengelompok menurut kelas masing-masing. Saat Izza duduk, ada cowok keren yang lewat didepan kelas 7b. sepertinya Izza mulai terpesona melihat cowok itu, dan seakan-akan melayang diatas bunga-bunga yang indah dan ditemani kupu-kupu penuh warna. Matanya engikuti gerak-gerik cowok tadi sampai dia duduk. Izza baru menyadari kalau cowok itu kelas 7e. Kelas yang ada di belakang 7b.
“ tuuh cowok ganteng amat yaa ? kaya finalist idola cilik itu loh .. yang namanya Cakka” ujar Izza.
“ ah masa .. ? engga tuh, dia lebih mirip actor yang main di Suami Idola.. hahaha” sindir Melia sambil tertawa.
Celvi dan Asa hanya tersenyum manis mendengar kedua temanya yang suka ngelawak itu. “lo tuh ya.. tau cowok cakep apa ngga sih.. apa jangan-jangan lo nggak suka cowok ya #eh keceplosan” ledek Izza. “ eh .. gue masih normal kale “
Ternyata bukan hanya Izza yang terpesona. Sita anak 7g pun tak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik si cowok itu. Mereka berdua sama-sama penasaran dengan nama anak itu.
“ Mawar, lo tau nggak sih, cowok yang duduk di kelas 7e ??! “ Tanya nya dengan kata-kata lebay.
“ kalo gue emak nya, ya pasti tau. Nah gue bukan emak nya ? nahlo “ jawab Mawar.
Sita pantang menyerah, dan tak hentinya bertanya kepada temanya.  “ ehemm..eheemm.. Santi Santi .. kalo lo tau nggak cowok itu ?” kata Sita sambil menunjuk cowok itu.
“ naah, gue tau.. tuh cowok temen SD gue. Namanya Ray. Dia anak tukang siomay yang itu looh pake sambel kacang asoy “ ledek Santi.
“ lah masa si Ray anak nya tukang siomay ??!  ngga banget deeh .. yang bener aja !” kata Sita sambil menepuk pundak Santi. Sita tidak percaya kalau cowok ganteng itu anak nya tukang siomay. Dia berpikir kalau Ray itu anak nya pengusaha yang kaya.
“ bukan lah, mau aja gue tipu. Hehehe yang anak nya tukang siomay itu si Cengkli temen sekelas kita yang culun itu..”  Sita tidak mendengarkan omongan Santi. Dia terus memandangi si cowok itu.
Jam 12 siang semua siswa pulang. Dijalan Izza dan Melia melihat Ray dan mama nya di minimarket. Melihat itu, Izza dan Melia tertawa. “ si Ray ternyata anak mama ya “ Tanya Melia sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“ nggak lah, paling Cuma nemenin mama nya “ bela Izza sambil memasang muka cemberut.
Keesokan harinya Cengkli melihat Sita dijalan waktu berangkat sekolah. Cengkli terpesona melihat kevantikan Sita. Dalam hati Cengkli berkata “ inyong tembe ngerti bocah kok ayu tenan kaya bidadari.. weleh-weleh ”. Cengkli yang jalan didepan Sita, terus memandangi nya dengan senyuman manis.
“ apaan sih lo .. liat-liat gue “ bentak Sita. Sita tidak suka dengan Cengkli, karena gaya nya yang masih culun dan polos.
“ nggak boleh ya ..” kata Cengkli dengan gaya bahasa nya yang khas medok.
“ lo ngomong apa kentut sih ..” ujar Sita. Sita sudah sangat malas berbicara dengan Cengkli. Sita mempercepat jalan nya, dan disusul oleh Cengkli yang sama-sama mempercepat jalan nya.
Tiba-tiba ada mobil yang mengklakson.
“ Sit, lo mau bareng gue nggak ? “ Tanya Mawar yang sedang ada di dalam mobil.
“ boleh deh, gue lagi di gangguin orang gila nih “ kata Sita sambil melirik kea rah Cengkli. “ maksud lo siapa ? “ Tanya Mawar heran. “ tuh ..” ujar Sita cuek.
Dikelas Izza dan Melia menceritakan kejadian kemarin yang melihat Ray kepada Asa dan Celvi. “ percaya aja deh si Ray itu anak mam. Udah ada bukti nya kok “ kata Melia memojokan Izza. Karena dia percaya bahwa kata-katanya itu benar.
“ ngga lah .. itu biasa, Cuma nemenin mama nya belanja “ bela Izza.

Setelah beberapa jam pelajaran akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi. Sita, Mawar dan Santi telah sepakat akan belajar kelompok dirumah Mawar karena ada tugas kelompok.  Sesampainya mereka dirumah Mwar, mereka pun dipersilakan duduk.
Lalu Mawar pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Saat Mawar sedan di dapur, Sita dan Santi membicarakan tentang cowok yang bernama Ray. Sita yang begitu naksir terus bertanya-tanya kepada Santi tentang info Ray.
            “ San, Ray itu kan temen SD lo ya. Gimana sih orang nya ? “ Tanya Sita memasang senyuman manja.
            “ Ray ? “ kata Santi sambil memandang muka Sita. “ Ray itu ngga suka cewek cerewet kaya lo.. hahaha “ ledek Santi. Sebenarnya Santi sudah bosan ditanya tentang Ray.
            “ yah .. pupus deh harapan gue “ kata Sita sambil menunduk dan murung. Akirnya Sita meminta nomor handphone Ray kepada Santi. Dan Santi memberikanya. Senyuman bahagia mulai terlihat di bibir manisnya.
            Sita langsung menyimpan nomor Ray di handphone nya. Saat Sita sedang asyik nya sms Ray, dan Santi yang sedang membaca majalah yang tergeletak di meja. Mawar dating membawa minuman dingin. Setelah itu mereka belajar bersama hingga sore, lalu mereka pulang.
            Keesokan harinya disekolah Ray menggerutu kesal kepada Zigal. “ si Izza anak 7b itu, terus-terusan ganggu gue, dia sms lah telpon lah. Dah itu Tanya ngga jelas lagi. Nggak hanya Izza aja! Sita anak 7g juga gitu. Bikin kesel aja tuh cewek-cewek. “
            Zigal menoleh ke hadapan Ray dan matanya melotot. “ kenapa lo marahnya ke gue ? marah ama orang nya kek “ kata Zigal kesal. Zigal yang sudah bosan mendengarkan curhatan Ray, keluar kelas dan duduk-duduk bersama teman nya. Kemudian Ray menghampiri Zigal dan meminta maaf atas perbuatanya tadi.
            Pelajaran pertama untuk anak 7b hari itu adalah olahraga. Sehingga Celvi, Asa dan Izza berganti baju. Namun Melia sudah terlebih dahulu berganti baju. Setelah ganti baju, Celvi lupa kalau jam tangan nya tertinggal di toilet. Ditengah jalan dia merengek-rengek minta di temani ke toilet untuk mengambil jam tangan nya. Celvi menarik-narik baju Asa “ temenin gue dong. Jam tangan gue ketinggalan di toilet nih. Please “ bujuk Celvi.
            Tanpa menoleh kea rah Celvi “ nggak. Udah masuk tuh, sama Izza aja ? “ saran Asa. “ gue ngga bisa juga “ Izza buru-buru lari ke lapangan. “ ih jahat “ kata Celvi sambil manyun.
            Tidak sengaja saat Celvi kembali ke toilet, ia bertemu dengan Zigal dan Ray. Zigal mengumpat dibelakang Ray, mereka berbisik-bisik yang tidak dimengerti Celvi. “ Ray, lo yang ngomong dong, please ya. Gue tunggu di belakang” kata Zigal dengan suara lirih.
            Sudah sejak lama Zigal ingin mengatakan putus dengan Celvi. Alasanya banyak, Celvi tidak pernah perhatian, cuek , seperti tidak menganggap Zigal itu sebagai pacarnya. Jadi kesempatan itu tidak akan terlewatkan. Celvi menyapa dengan senyuman ramahnya. “ haai guys “.
            “ iya “ kata Ray. “ gue mau ngomong ama lo sebentar “ menarik tangan Celvi. “ ngomong apa ? “ Tanya nya heran.
            “ emm “ mengumpulkan keberanianya. “ gini Ce, tapi janji ya lo jangan sedih atau marah. Si Zigal nyuruh gue bilang ini. Karena dia ngga enak kalo ngomong sendiri sama lo “ tanpa banyak bicara, Ray langsung mengatakan nya. “ Zigal minta udahan sama lo “
            Melihat ekspresi wajah Celvi yang biasa-biasa saja, Ray juga bingung. “ mmm.. Iya sampein maaf gue sama Zigal ya “ lalu Ray terdiam dan hanya menganggukan kepala.
            “ eh, gue duluan ya.. gue mau olahraga “ Ray tidak menjawab apa-apa dan hanya tersenyum manis.
            Setelah kejadian itu, Ray menghampiri Zigal yang sedang menunggu nya. Dia masih bingung dengan Celvi, kenapa raut muka Celvi biasa saja saat mengatakan Zigal ingin putus. Apa dia tidak merasa bersalah pikir Ray. Sampai Ziga memanggil, Ray masih bingung.
            “ Ray, gimana ? Tanya Zigal penasaran
            “ dia Cuma minta maaf sama lo gitu aja “ kata Ray dengan muka bingung. “ ya udah lah, biarin aja .. gue lega lo udah bilang ke Celvi “ kata Zigal dengan perasaan campur aduk. “ lo nggapapa ? “ Tanya Ray melihat muka Zigal yang sedih. “ nggapapa , yuk kita ke kelas aja “ ajak Zigal.
            Di kelas Zigal masih murung, dia kelihatan pasrah. Ray mencoba menghibur nya “ udah gal, mungkin dia ngga cocok sama lo.. lupain aja deh. Oh iya , lo kan janji kalo gue udah bantu lo, tinggal lo yang bantuin gue nembak Asa ? “ kata Ray menagih janji. “ ya nanti kita langsung ke kelas Asa aja “ usul Zigal dengan suara rendah.
            Saat bel istirahat berbunyi dan guru mulai meninggalkan kelas, Zigal dan Ray lari ke kelas 7b. “ Zigal ….. Ray …. “ teriak seorang cowok berlogat jawa medok. Lalu mereka berhenti dan menengok ke belakang. Mereka sudah mengira kalau anak itu adalah Cengkli dengan suara khas nya. Ternyata benar bahwa Cengkli yang memanggil mereka berdua. “ aku ikut kalian yak “ kata Cengkli. “ yaa ayo lah “ ajak Ray.
            Sesampainya di kelas 7b perasaan Ray campur aduk. Yang deg-degan takut ditolak lah, yang malu lah. Setelah Zigal bertanya-tanya ke teman Asa, ternyata Asa sudah keluar. “ kita cari ke kantin aja, biasanya kan dia lagi duduk-duduk sama temennya “ usul Cengkli. Zigal dan Ray menuruti kata-kata Cengkli dan mereka segera lari ke kantin.
Ternyata Asa sedang duduk dengan teman-teman nya, tetapi ramai sekali tidak seperti biasanya. Dan yang mengherankan nya lagi, si Sita, Mawar, dan Santi juga sedang bersama Asa. Setelah di piker matang, akhirnya mereka memberanikan diri menemui Asa  dan mereka mulai mendekatinya.
“ loh, Ray, ngapain lo kesini? “ Tanya Sita heran.
“ lo juga Zigal, Cengkli ngapain kesini? “ sambung Melia.
“ emm.. ngga ngapa-ngapain kok, Cuma ada perlu aja sama Asa “ Zigal mengajak Asa jauh dari kantin, tetapi Asa tidak mau. “ ada apa Gal? ngapain ngajak-ngajak gue kesana?”  Tanya Asa heran.
“ gue mau ngomong ama lo, ngga bias ngomong disini. Ini pribadi “ kata Zigal. Ray memberi kode supaya pergi menjauh ketika meliriknya.
Izza memotong pembicaraan “ emang lo mau ngomong apaan? Kenapa disini ngga bisa? “.
“ urusan pribadi neng.. eh “ melirik Celvi yang kelihatanya tidak marah dengan kejadian tadi di toilet. “ gue ngga mau ngomong disana, maunya disini! “ bentak Asa dengan suara keras.
“ oke, gue ngomong disini, tapi please.. kalian jangan shock “ berhenti sejenak “ Ray suka sama lo, lo mau ngga jadi pacar Ray ? “ kata kata itu secara langsung di keluarkan dengan lantangnya.
“ well, sorry gue ngga bisa nerima Ray, gue ngga suka sama dia. Yang suka sama Ray itu Izza sama Sita! “
Ray yang sudah mengira jawaban itu, langsugn murung. Melihat wajah Ray, Cengkli pun menghibur dan menenangkan hatinya. “ nggapapa Ray, dia ngga suka kamu. Relain aja ya “.
“ udah terlanjur Sa, Ray udah suka sama lo “ kata Izza murung. “ gue juga suka sama Ray “ sambung Sita. Melia bingung dengan keadaan itu dan bertanya-tanya di dalam hati.
Tidak tau harus berbicara apa lagi, Ray hanya duduk diam membisu. Dia tidak menyangka kalau dia di tolak Asa. Sejak pertama melihat Asa, dia sudah mulai menyukainya. Hatinya berbunga-bunga jika bertemu Asa. Tapi kali ini keinginanya pupus sudah.
Mawar melerai “ udah ngga usah rebut “ karena tidak ada yang mendengarkan dan menanggapi, Mawar berbicara keras sambil menggebrak meja “ gue bilang diem! Lo semua denger ngga sih?
Santi yang berada disamping Mawar kelihatan kaget dan ketakutan. Dia mencoba memberi kode kepada teman yang lainnya supaya diam. Detik kemudian semua diam membisu. Anak-anak lain yang melihat Mawar marah, hanya berbisik-bisik dan bertanya-tanya keheranan. Biasanya Mawar tidak pernah marah dan membentak seperti itu.

“ eh kita masih kecil! Masuk SMP aja baru! Udah pada pengin pacaran segala. Seenggak-enggak nya kita tuh berteman, sahabatan. Sekarang gimana coba, si Izza suka sama Ray. Sita pun sama. Ray malah suka sama Asa dan Asa ngga suka! Coba kalian piker lagi deh, kita lebih baik sahabatan kan? Sahabat lebih dari apapun! Kita bisa lebih dekat. “
Suasana hening saat semua diam, yang terdengar hanya suara anak-anak lain di kantin. Mereka merenungi semua perkataan Mawar. Menyadari bahwa mereka salah. Tak ada satu pun yang berani berbicara.
“ ya udah, daripada kita ribur gini mending kita sahabatan mulai dari sekarang! “  ajak Melia sambil menjulurkan tangannya. Melia berharap mereka semua mengikutinya. Tanpa dikomando, mereka menjulurkan tangan dari Asa terlebih dahulu dan diikuti oleh Izza, Celvi, Sita, Mawar, Santi, Ray, Zigal dan terakhir Cengkli.
“ kita sama-sama bilang sahabat selamanya ya “ usul Sita.
“ oke “ sahut Zigal.
“ 1 …….. 2 ……. 3 …….SAHABAT SELAMANYA .. yeeeeee “
Anak-anak lain yang melihat itu, berbisik-bisik lagi dan bertanya-tanya. “ kita lupain aja genk yang udah direncanain “ kata Celvi.
“ oke “ kata yang lain serempak dengan senyuman manis.
Mereka sekarang menyadari bahwa sahabat lebih dari apapun dan tidak dapat terpisahkan oleh apapun.

Tidak ada komentar: